BULAN YANG SATU, UMAT YANG SATU
https://rumah-tsaqofah.blogspot.com/2026/02/bulan-yang-satu-umat-yang-satu.html
RAMADHAN:
BULAN YANG SATU, UMAT YANG SATU
"Sebuah Refleksi Mendalam untuk Kaum Muslimin di Seluruh Penjuru Dunia"
Alhamdulillah, bulan suci akan segera menaungi umat Islam sedunia. Dialah Ramadhan tamu istimewa, syiar Islam yang mulia, bulan yang dinanti-nanti oleh lebih dari satu setengah miliar umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Dari Aceh sampai Papua, dari Riyadh sampai Kairo, dari London sampai Jakarta, jutaan pasang mata menanti kabar gembira, kapan kita mulai berpuasa? Saat matahari terbenam dan hilal mulai tampak tipis, hati kita berdebar menanti pengumuman.
"Jika bulan yang kita lihat itu hanya satu, lalu mengapa kita sering berbeda?"
Mengapa Indonesia kadang berbeda dengan Arab Saudi? Mengapa tetangga serumpun bisa memulai puasa di hari yang tak sama?
Cermin Persatuan Agama Lain
Umat Nasrani serempak merayakan Natal setiap 25 Desember. Umat Yahudi, Hindu, dan Budha tampak kompak dalam hari besar mereka. Namun mengapa kita, Khaira Ummah, justru sering terpecah dalam ibadah yang paling agung ini?
Satu Syariat, Satu Kitab, Satu Kiblat
Namun Terpecah dalam Penentuan Waktu Ibadah
Global Unity
Akar Permasalahan
Analisis para ulama kontemporer terhadap fenomena perbedaan ini
Faktor Astronomi
Masalah ilmiah murni: Posisi bulan, perhitungan hisab, dan kriteria visibilitas hilal (Imkanur Rukyat).
Faktor Fikih
Perbedaan metodologi memahami dalil: Rukyat vs Hisab, serta perdebatan Mathla' Lokal vs Mathla' Global.
Faktor Politik
Faktor yang paling dominan dan menyakitkan. Keterpecahan 50+ negara bangsa (Nation State) yang membelenggu ukhuwah.
Ironi Perbatasan Nasional
Tragedi Tahun 1999
Yaman dan Arab Saudi adalah tetangga dekat. Pada tahun 1999, Yaman mengumumkan hilal terlihat (8 Desember). Namun Saudi menolak dan menetapkan esoknya (9 Desember). Secara astronomi dan fikih, tak ada alasan kuat untuk berbeda. Ini murni masalah Ego Kedaulatan.
Bedah Konsep Mathla'
Jika setiap 133 KM dianggap memiliki mathla' sendiri (konsep tradisional), maka Indonesia yang sepanjang 5.200 KM akan memiliki:
Versi Awal Ramadhan
Tentu saja, ini akan menjadi kekacauan yang luar biasa bagi umat.
Satu Rukyat untuk Seluruh Dunia
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal."
(HR. Bukhari & Muslim)
Imam Ash-Shan'ani
"Makna 'jika kalian melihatnya' menunjukkan bahwa rukyat pada suatu negeri berlaku bagi seluruh penduduk negeri di dunia dan hukumnya wajib."
Syaikh Wahbah Az-Zuhaili
"Pendapat Jumhur (Global) inilah yang kuat menurut saya, sebagai pemersatu ibadah dan mencegah perbedaan pendapat yang tak dapat diterima lagi masa sekarang."
Meluruskan Pemahaman Hadits Kuraib
Riwayat Ibnu Abbas sering digunakan untuk mathla' lokal. Namun Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa itu adalah ijtihad pribadi Ibnu Abbas, bukan sabda Nabi. Hal ini bertentangan dengan hadits rombongan Anshar di mana Nabi memerintahkan penduduk Madinah membatalkan puasa karena kabar rukyat dari luar daerah.
Kesimpulan: Rasulullah mengakui rukyat dari daerah lain!
Solusi Nyata: Otoritas Tunggal
"Jika hilal telah terbukti oleh Khalifah, maka seluruh negeri-negeri Islam wajib merujuk hasil rukyat itu... Sebab seluruh negeri-negeri yang berada di bawah pemerintahannya dianggap bagaikan satu negeri."
— Imam Al-Maziri (Abad ke-6 H)
Akar masalahnya adalah ketiadaan institusi pemersatu. Penyakit ini bernama perpecahan politik, dan obatnya adalah persatuan di bawah satu naungan kepemimpinan global yang sanggup menyatukan Maroko hingga Merauke.
Jangan Berhenti Bermimpi
Mari kita sambut tamu agung ini dengan hati yang bersih dan semangat persatuan. Berdoalah di sepertiga malam yang sunyi, di waktu sahur yang berkah:
"Ya Allah... satukanlah hati-hati kaum muslimin di seluruh dunia. Satukanlah langkah mereka dalam menjalankan perintah-Mu. Jadikanlah Ramadhan tahun ini sebagai awal dari persatuan umat Islam sedunia."
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.


